Selasa, 29 Januari 2013

BAJULGILING: Ajimat Sakti Milik Jaka Tingkir

Menurut Babad Jawi dan Babad
Sengkala, timang atau kepala
ikat pinggang Kyai Bajulgiling
adalah timang sakti milik Kyai
Buyut dari Banyubiru yang
kemudian diberikan kepada Jaka Tingkir atau Mas Karebet. Timang Kyai Bajulgiling’bersama ikat
pinggangnya yang terbuat dari
kulit buaya itu diberikan Kyai
Buyut dari Banyubiru kepada
Jaka Tingkir sebagai piandel dalam pengabdiannya ke
Kerajaan Demak Bintoro yang
kemungkinan akan mengalami
banyak hambatan, baik selama di perjalanan maupun setelah
berada di Demak Bintaro. Diceritakan dalam Babad
Pengging, konon Timang Kyai
Bajulgiling dibuat oleh Kyai
Banyubiru dari bijih baja murni
yang diambil dari dalam
gumpalan magma lahar Gunung Merapi. Dengan kekuatan
gaibnya, bijih baja murni itu oleh
Kyai Banyubiru dibuat menjadi
dua pusaka. Satu berbentuk
sebilah keris luk tujuh yang
dikenal dengan nama Kyai Jalakpupon dan satunya lagi
berbentuk timang (kepala ikat
pinggang) yang kemudian
dikenal dengan nama Kyai
Bajulgiling, karena bentuk mata
timang yang seperti buaya giling dengan kepala sedikit terangkat,
mulut terkatup tapi kedua
matanya terbuka lebar. Kekuatan gaib yang dimiliki oleh
Timang Kyai Bajulgiling ialah,
barang siapa yang memakai ikat
pinggang Timang Kyai Bajulgiling
ini, maka dia akan kebal dari
segala macam senjata tajam dan ditakuti semua binatang buas.
Hal ini selain kekuatan alami
yang dimiliki oleh inti bijih baja
murni itu sendiri, juga karena
adanya kekuatan rajah
berkekuatan gaib yang diguratkan Kyai Banyubiru di
seputar timang tersebut.
Kemudian kekuatan ikat
pinggang ber-Timang Kyai
Bajulgiling beberapa kali dialami
dan dibuktikan sendiri oleh JakaTingkir. Mengenai hal ini Babad Tanah
Jawi menceritkan sebagai
berikut: Jaka Tingkir konon lahir di
Pengging yang penuh rahasia,
yang tentunya sebuah negeri
kecil yang berdiri sendiri. Di sana
terdapat beberapa benda kuno
dari zaman Hindu, juga sebuah makam keramat yang
dinyatakan sebagai tempat
peristirahatan ayah Jaka Tingkir
yang bernama Kebo Kenanga
alias Andayaningrat. Karena ia
lahir sewaktu ada pertunjukkan wayang Beber (juga dinamakan
wayang Karebet), maka ia pun
dinamakan Mas Karebet. Tetapi Jaka Tingkir tidak
dibesarkan di Pengging, namun
di Tingkir, sebab Sunan Kudus,
raja pendeta diplomat jendral
Demak, telah membunuh
ayahnya karena pembangkangan, dan tidak lama
setelah itu ibunya pun
meninggal. Keluarganya
kemudian membawanya ke
Tingkir, dan disana ia diasuh oleh
seorang janda kaya, sahabat ayahnya. Karena itulah ia diberi
nama Jaka Tingkir, pemuda dari
Tingkir. Mengikuti saran Ki Ageng Selo,
gurunya dan Sunan Kalijaga, Jaka
Tingkir pergi ke Demak untuk
bekerja mengabdikan diri pada
Sultan Demak, dan melamar
sebagai pengawal pribadi. Keberhasilannya meloncati
kolam masjid dengan lompatan
ke belakang tanpa sengaja,
karena sekonyong-konyong ia
harus menghindari Sultan dan
para pengiringnya memperlihatkan bahwa dialah
orang yang tepat sebagai
tamtama, dan diapun dijadikan
sebagai kepala. Beberapa waktu kemudian
satuan itu menuntut perluasan.
Seorang calon yang tak berwajah
tampan (buruk rupa), bersikap
tidak menyenangkan bagi
panglima muda ini. Karenanya calon itu tidak diuji seperti bisa,
yaitu menghancurkan kepala
banteng dengan tangan
telanjang, melainkan diuji
kekebalannya yang disetujui pula
oleh yang bersangkutan. Dan hanya dengan sebuah tusuk
konde Jaka Tingkir mampu
menembus jantungnya.
Alangkah hebat kesaktiannya.
Tapi seketika itu juga, hal ini
mengakibatkan ia dipecat dan dibuang. Kepergiannya menimbulkan rasa
sedih yang mendalam pada
kawan-kawannya. Dengan rasa
putus asa Jaka Tingkir pulang
kembali dan ingin mati saja. Dua orang pertapa, Ki Ageng
Butuh dan Ki Ageng Ngerang
(suami dari putri Bondan
Kejawen atau adik Ki Ageng
Getas Pendawa, kakek buyut
Panempahan Senopati) tidak hanya memberi pelajaran, tetapi
juga memberi semangat
kepadanya. Ketika Jaka Tingkir
berziarah di malam hari di
makam ayahnya di Pengging,
terdengarlah suara yang menyuruhnya pergi ke tokoh-
tokoh keramat lain, antara lain
Kyai Buyut dari Banyubiru yang
selanjutnya menjadi gurunya.
Demikianlah Kyai ini memberikan
kepadanya azimat agar ia mendapat perkenan kembali dari
Sultan. Azimat pemberian Kyai
Buyut dari Banyubiru itu berupa
sebuah ikat pinggang dengan
timang yang matanya berwujud
buaya, yang diyakini sebagai Timang Kyai Bajulgiling. Perjalanan kembali Jaka Tingkir
ke Demak dilakukan dengan
getek (rakit yang hanya terdiri
dari susunan beberapa batang
bambu). Saat akan melewati
Kedung Srengenge, Jaka Tingkir menghadapi hambatan karena
adanya sekawanan buaya,
kurang lebih berjumlah 40 ekor,
yang menjadi penghuni dan
penjaga kedung tersebut.
Percaya dengan kekuatan gaib dari Timang ikat pinggang
pemberian Kyai Buyut
Banyubiru, Jaka Tingkir nekad
mengayuhkan geteknya
memasuki kawasan Kedung
Srengenge. Bahaya pun mengancam ketika
sekawanan buaya menghadang
dan mengitari rakitnya. Namun
berkat kekuatan gaib dari Timang
Kyai Bajulgiling, buaya-buaya
yang semula buas beringas seketika menjadi lemah dan
akhirnya tunduk pada Jaka
Tingkir. Bahkan keempat puluh
buaya ekor buaya itu menjadi
pengawal perjalanan Jaka Tingkir
selama menyebrangi Kedung Srengenge dengan berenang di
kiri-kanan, depan dan belakang
rakitnya. Di wilayah Demak azimat
pemberian Kyai Buyut Banyubiru
diterapkannya kembali. Seekor
lembu liar dibuatnya menjadi
gila, sehingga tiga hari tiga
malam para tamtama pun tidak dapat menghancurkan
kepalanya, dan bahkan dengan
malu terpaksa mengaku kalah.
Hanya Jaka Tingkir yang berhasil
membunuh kerbau itu, yakni
hanya dengan mengeluarkan azimat yang telah dimasukkan ke
dalam mulut hewan itu
sebelumnya. Setelah itu ia
mendapatkan kembali
kedudukannya yang lama. Beberapa waktu kemudian ia
menikah dengan putri ke -5 Raja
(Sultan Trenggono) dan menjadi
Bupati Pajang dengan daerah
seluas 4.000 bahu. Tiga tahun ia
harus menghadap ke Demak, tetapi negerinya berkembang
dengan baik sekali dan di sanalah
dibangunnya sebuah istana…. Demikianlah sekilah kisah
tentang Jaka Tingkir atau Sultan
Hadiwijaya, gelar setelah
menjadi Raja di Pajang. Setelah
dia wafat, lalu dimanakah
keberadaan ikat pinggang dan Timang Kyai Bajulgiling azimat
pemberian Kyai Buyut Banyubiru
itu? Sebab setelah meninggalnya
Jaka Tingkir, tak satu pun dari
anak, menantu dan kerabat
dekat Sultan Hadiwijaya seperti Pangeran Benowo, Pangeran
Pangiri dan juga Sutawijaya atau
Senopati pernah menyimpan
Timang Kyai Bajulgiling?
Demikian juga halnya dengan
dua sahabat dekatnya dari Pengging, Tumenggung Wirakerti
dan Suratanu. Menurut cerita, ikat pinggang
dengan Timang Kyai Bajulgiling
itu tertinggal di depan makam
Sunan Tembayat di Gunung
Jabalkat (masuk wilayah
Kabupaten Klaten, Jawa Tengah), lupa terbawa oleh Sultan
Hadiwijaya yang mengakibatkan
ia terjatuh dari gajah yang
dinaikinya dalam perjalanan
pulang dari Tembayat ke Pajang. Seperti diceritakan dalam Serat
Kanda. Kedatangan iparnya
Tumenggung Mayang memberi
kesempatan kepada Senopati
untuk mendapat pengikut lebih
banyak lagi dari Pajang. Fakta- fakta ini pada suatu hari dalam
persidangan agung di Pajang
disodorkan oleh para menantu
raja (Tumenggung Tuban dan
Tumenggung Demak) kepada raja
agar diperhatikan karena mereka berpendapat perlu segera
menggempur Mataram. Meskipun
sadar akan jatuhnya Pajang
nanti, Sultan tidak bisa bertahan
atas desakan itu, dan
memerintahkan untuk mengangkat senjata. Para
tumenggung menyatakan
bersedia, asalkan Sultan turut
serta, meskipun berada di
belakang barisan. Lebih kurang 10.000 orang
prajurit dipersiapkan. Pangeran
Benowo naik kuda di belakang
ayahnya yang duduk di atas
gajah. Di Prambanan mereka
berhenti dan memperkuat pertahanan dengan meriam. Kyai Adipati Mandaraka (Juru
Mertani), yang melihat akan
terjadinya pertempuran besar,
mendesak Senopati agar pergi ke
Gua Langse (Gua Rara Kidul)
sedangkan ia sendiri akan ke Gunung Merapi untuk meminta
bantuan. Setelah kembali dari
Gua Langse Senopati
mengumpulkan 1.000 orang
prajurit, dan 300 orang di
antaranya ditempatkan di sebelah selatan Prambanan.
Mereka mendapat perintah,
begitu terdengar suara letusan
keluar dari Gunung Merapi, harus
segera memukul canang Kyai
Bicak dan berteriak-teriak. Sebagai panglima diangkat
Tumenggung Mayang. Pertempuran terjadi di dua
tempat. Pasukan Mataram pura-
pura melarikan diri. Tetapi
orang-orang Pajang yang
mengejarnya tiba-tiba diserang
oleh pasukan Matram dari dua arah dan dicerai-beraikan. Gelap
malam menghentikan
pertempuran itu. Kedua belah
pihak kembali ke kubu
pertahanan masing-masing. Hari itu pukul tujuh pagi, Gunung
Merapi meletus di tengah-tengah
kegelapan. Hujan lebat, hujan
debu, gempa bumi, banjir dan
gejala alam lain yang
menyeramkan. Orang-orang Mataram memukul Canang Kyai
Bicak. Banjir menggenangi kubu
panjang yang memaksa mereka
melarikan diri dalam
kebingungan. Sultan terseret
dalam kekacauan itu. Selanjutnya diceritakan dalam
Serat Babad Tanah Jawi. Sultan,
dalam hal ini Sultan Hadiwijaya
atau Jaka Tingkir, yang malang
dan terpaksa melarikan diri itu
ingin berdoa di makam Tembayat, tetapi pintu makam
tidak dapat dibuka. Raja tidak
mampu membukanya sehingga
ia berlutut saja di luar. Juru kunci
memberikan penjelasan yang
sangat buruk tentang kejadian itu. Rupanya Allah tidak lagi
memberinya izin menjadi raja.
Hal ini amat mengguncangkan
jiwa sang raja. Pada malam hari
ia tidur dalam bale kencur yang
dikelilingi air, yang sangat menyegarkan. Esok harinya perjalanan
dilanjutkan, tetapi raja terjatuh
dari gajahnya dan menjadi sakit
karenanya. Setelah itu ia
dinaikkan di atas tandu,
begitulah perjalanan pulang ke Pajang amat lambat dan raja
duduk terguncang-guncang di
atas tandu. Pangeran Benowo, Pangeran
Pengiri, Tumenggung Wirakerti
dan Suratanu yang menolong
raja saat jatuh dari gajah, segera
mengetahui, mengapa Sultan
tidak bisa lagi mengendalikan gajah yang tiba-tiba menjadi
galak, karena tidak lagi adanya
ikat pinggang azimat dari Kyai
Buyut Banyubiru di
pinggangnya. Suratanu ingat,
Sultan melepaskan ikat pinggang itu dari tubuhnya dan
meletakkan di sampingnya saat
berdoa di depan makam Sunan
Tembayat. Suratanu meyakini
ikat pinggang itu pasti lupa
terbawa oleh Sultan dan masih tertinggal di depan pintu makam
di Tembayat. Dengan cepat Suratanu
menggebrak kudanya kembali ke
makam Sunan Tambayat. Tapi
ikat pinggang itu sudah tidak ada
di tempatnya. Menurut juru
kunci, hilangnya ikat pinggang Sultan memberi pertanda akan
berakhirnya masa kejayaannya,
karena ikat pinggang itulah yang
telah mengantarnya
mendapatkan harkat dan
martabat yang terhormat. Banyak kisah tentang hilangnya
dan keberadaan ikat pinggang
bertimang Kyai Bajulgiling yang
bertuah itu. Ada sebagian kisah
menceritakan, ikat pinggang
yang tertinggal di depan pintu makam Sunan Tembayat itu
diambil dan disimpan oleh juru
kunci makam. Tetapi ada pula
yang mempercayai ikat pinggang
itu hilang secara gaib, yang
hilangnya azimat itu juga diketahui dan disadari oleh
Sultan. Namun yang jelas, ikat pinggang
dengan Timang Kyai Bajulgiling
azimat buatan Kyai Buyut
Banyubiru itu secara gaib masih
tersimpan di seputar makam
Sunan Tembayat di Gunung Jabalkat. Karena itu tak heran
bila sejak dahulu sampai
sekarang banyak orang pintar
yang berusaha mengambilnya
dari alam gaib, baik untuk
dirinya sendiri atau untuk kepentingan orang lain. Hal ini
karena adanya kepercayaan,
akan kekuatan gaib yang
terkandung dalam Timang Kyai
Bajulgiling yang dapat
mengangkat derajat, harkat dan martabat pemilik atau
pemakainya. Meski sudah banyak sekali orang
pintar yang memburu kepala ikat
pinggang sakti milik Jaka Tingkir
itu, namun hingga kini belum
diperoleh informasi apakah
sudah ada di antara mereka yang berhasil mendapatkan benda
keramat dari alam gaib itu.

[majalah-misteri.net]