Kamis, 31 Januari 2013

Dulu Hanya Bangsawan Saja Yang Memiliki Payung

Bahasa Ingggrisnya umbrella. Maknanya
tidak bergeser jauh dari kata asli
dalam bahasa Latin yang
diserapnya, umbra: tempat
teduh. Orang sekarang memang
memakai payung sebagai pelindung sengatan matahari
dan hujan. Meskipun dalam
kebudayaan kita dipakai juga
untuk alat pelengkap tari,
upacara kematian, hiasan, dan
lainnya. Namun para bangsawan Mesir,
Mesopotamia, maupun Cina sejak
tahun 12 SM menjadikan payung
sebagai atribut
kebangsawanannya. Bahkan para
wanita teman tidur raja Siam hanya dilengkapi tiga buah
payung sebagai pelindung tubuh.
Berhubung mahal dan langka,
hanya orang tertentu yang
punya. Makanya para raja
bangga jika memilikinya. Apalagi kalau bisa mengoleksi berbiji-biji
seperti halnya penguasa Ava
sampai ia menyebutkan dalam
gelarnya "Raja Para Gajah Putih
dan Penguasa 24 Payung".
Lalu saking beratnya payung zaman dulu, harus ada orang lain
- biasanya budak - yang
memegangi atau
membawakannya. Seperti
tampak dalam gambar-gambar
kuno, para raja, pejabat, atau pendeta diiringi pembawa
payung yang tugasnya
melindungi sang majikan dari
terik matahari. Payung lalu
menjadi simbol status
kehormatan. Lambat laun orang Eropa pun
mengenalnya meski kaum
bangsawan dan orang kaya di
sana hanya menggunakannya
sebagai pelindung dari sengatan
matahari. Pada abad XVII payung semakin memasyarakat
setelah teknik pembuatannya
maju dan ditemukan bahan
murah. Atap payung dari kulit
diganti kain ringan, misalnya
sutera yang lalu jadi populer. Rangkanya dari tulang ikan paus.
Payung berangsur-angsur
semakin ringan sehingga
bantuan untuk membawanya tak
perlu lagi.
Fungsinya juga bertambah sebagai pelindung dari hujan.
Orang Prancis lalu membedakan
payung sesuai fungsinya dengan
istilah parasol - payung
matahari, dan parapluei - payung
hujan. Namun pada zaman itu belum semua masyarakat
menerimanya. Misalnya, kaum
pria Prancis menganggap genit
lelaki yang memakai payung dan
bisa menurunkan derajatnya.
Juga ada yang menilai payung hanya pantas bagi mereka yang
tidak mampu membeli kereta.
Pemilik payung identik dengan
bukan orang kaya, tapi sok kaya.
Benda yang semula simbol status
kekuasaan, berubah peran jadi sarana murah pengganti kereta.
Adalah Jonas Hanway
(1712-1786) yang pertama
membuat Inggris jatuh cinta
pada payung. Tadinya Hanway
diolok-olok orang tiap kali terlihat berjalan dengan
"senjata" payung untuk
menentang cuaca buruk. Lebih
kacau lagi, ia dimusuhi tukang
pikul tandu dan sais kereta yang
merasa terancam periuk nasinya gara-gara payung. Payung baru
populer setelah dipakai Beau
Macdonald, pria pesolek amat
kesohor di Inggris, meskipun ia
pernah dianggap aneh sampai
saudara perempuannya sendiri menolak tampil bareng
bersamanya.
Rangka tulang paus digeser
logam. Pada 1850-an Samuel Fox
pertama kali merancang bingkai
sehingga lebih ringan, tapi lebih kuat. Payung makin disukai
sebagai alat pelindung setelah
muncul tren mode kulit tubuh
yang pucat dan putih mulus.
Namun tren ini tak bertahan
lama. Sebab tak lama setelah PDI, muncul pendapat bahwa
sinar matahari itu menyehatkan.
Fungsinya pun kembali sebagai
penangkal hujan dan lambang
status saja.
Dari sudut lain, Sigmund Freud, pakar psikoanalisis, mengatakan
bahwa payung dalam mimpi
biasanya berkaitan dengan
kehidupan seksual yang
memuaskan. Sebab payung itu
simbol phallus (alat kelamin lelaki). Payung pernah membuat
Hitler kecele sehabis melihat PM
Inggris Lord Chamberlain turun
dari pesawat sambil menenteng
payung. Menurut Hitler, sebuah
bangsa yang pemimpinnya begitu repot melindungi diri dari
hujan saat negara-negara di
dunia dalam kekuatan seimbang,
tentu tidak punya pertahanan
tangguh. Ternyata dari hasil PD
II, kesimpulannya itu salah.[intisari]