Rabu, 16 Januari 2013

Dyah Arum

Dyah Arum selain sebagai seniman, dia adalah staf pengajar di ISI Fakultas Media Rekam. Waktu duduk di bangku SMU Regina Pacis, Solo, dia sering menonton teater di televisi. Grup yang sering ditontonnya adalah Teater Gandrik. Dari situlah Dyah tertarik dengan dunia seni dan berencana untuk melanjutkan studinya di ISI Yogyakarta.
Perempuan kelahiran Solo, 30 April 1971 ini, sempat pula ditentang oleh orang tuanya, namun rencananya tetap berjalan. Dyah pun hijrah ke Yogyakarta. Setelah beberapa bulan kuliah di ISI, Dyah sedikit goyah dan berncana ingin keluar. Tetapi dia membulatkan tekadnya. Dyah mulai menemukan kecintaannya kembali kepada dunia seni. Dia kemudian bergabung dengan beberapa kelompok teater di Yogyakarta.
Teater yang pertama kali dimasukinya adalah Teater Titian (1992) yang dipimpin oleh Emha Ainun Najib, lalu Teater Bintang Mataram, Teater Latar, Teater Garasi dan Teater Gandrik. Pada tahun 1995 hingga 1997, Dyah menjadipengisi suara untuk film-film India, telenovela, dan kartun. Setelah itu dia memilih untuk menamatkan studinya di ISI Yogyakarta. Pada tahun 1998 Dyah mendaftar sebagai staf pengajar di almamaternya dan diterima.
Selain teater, Dyah Arum juga bermain sinetron dan film. Kurang lebih sudah 30 sinetron yang pernah dimainkannya. Dyah Arum juga pernah berperan dalam beberapa film indi, seperti Bejo Vander Lagh dan Air Mata Surga. Dia juga membintangi film layar lebar berjudul Marsinah, sebagai Mutiari(tokoh utama) dan berhasil merebut gelar sebagai pemain terpuji (1997). Wajah Dyah Arum pun sering muncul diserial "Gatot Kaca" dan "Mbangun Desa"yang ditayangkan di TVRI Yogyakarta. Dengan dedikasinya itu, Dyah Arum beberapa kali mendapakan penghargaan. Namun, yang terpenting baginya adalah terus berkarya.