Senin, 28 Januari 2013

Golok Pusaka Langlangbuana

Warga Jawa Barat, masyarakat

Pasundan khususnya, selama ini

mungkin banyak mendengar cerita

tentang adanya harimau gaib yang

diyakini sebagai wujud penjelmaan

dari Prabu Siliwangi. Harimau gaib ini

digambarkan sebagai hewan

berbulu loreng, atau ada juga yang

mengatakan berbulu putih dan

disebut sebagai Lodaya.

Disamping harimau loreng dan

Lodaya, yang diyakini sebagai

jelmaan Prabu Siliwangi dan para

pengikut setianya, sesungguhnya

masih ada jenis harimau gaib

lainnya, yakni harimau yang berbulu

hitam pekat. Nah, jenis harimau

hitam inilah yang mungkin masih

kurang diketahui seperti apa asal-

usulnya.

Meski terkesan musykil, namun bagi

masyarakat Jawa Barat, khususnya

yang tinggal di daerah pinggiran,

masih meyakini kalau kesemua jenis

harimau gaib tersebut hingga kini

masih ada dan kerap menampakkan

wujudnya di tempat-tempat

tertentu. Fenomena itu utamanya

kerap terjadi di sekitar Leuweung

Sancang, Garut Selatan. Menurut

cerita, di Leuweung Sancang inilah

Prabu Siliwangi bersama para

pengikut setianya memutuskan jalan

gaib dengan cara ngahyang atau

moksa.

Lantas, bagaimana asal-usul harimau

hitam dari Pajajaran itu?

Menurut informasi yang Misteri

terima, sosok harimau hitam yang

kini dijadikan lambang kesatuan

kepolisian daerah di Jawa Barat ini

tidak lain mulanya berasal dari salah

seorang tokoh pengabdi setia di

Pajajaran.

Saat Prabu Siliwangi berkuasa, sang

tokoh mendapat kepercayaan

jabatan sebagai pejabat tinggi

keamanan, atau setara dengan

Panglima Polri pada saat sekarang.

Dialah petinggi polisi pertama yang

sempat diangkat dilingkungan

Kerajaan Pajajaran. Tokoh dimaksud

tak lain adalah yang namanya

populer dengan sebutan Eyang

Langlangbuana. Dia pertama kali

ditunjuk sebagai pengabdi polisi di

lingkungan kerajaan pada 1515, dan

bersamanya sempat pula ditunjuk

dua orang ajudannya, yaitu yang

bernama Eyang Jagariksa dan Eyang

Jagapirusa.

Disebutkan, ketiga tokoh inilah yang

bertanggung jawab terhadap

keamanan di lingkungan dalam

kerajaan. Mereka juga memiliki pos

pusat di Pakuan, juga sejumlah pos-

pos jaga di kawasan Sukadana,

Cibitu dan Cianjur.

Eyang Langlang buana, atau yang

dikenal pula sebagai Eyang

Jagaraksa atau Jagasatru, menurut

sejarah, sebenarnya bukanlah orang

Pajajaran asli. Dia adalah

pengembara yang berasal dari

Kerajaan Bugis, Makasar. Kemudian

dia menikah dengan wanita di

Pajajaran.

Sebelum singgah di Pajajaran, Eyang

Langlangbuana sempat pula

mengembara ke belahan bumi lain.

Seperti ke Tanah Arab yang lamanya

77 tahun, dan terakhir ke Tanah

Jawa, atau dalam hal ini adalah

Pajajaran.

Seperti diceritakan, Prabu Siliwangi

dan segenap pengikut setianya

akhirnya sepakat memilih jalan gaib

untuk mati secara moksa.

Sementara. saat mendapati tekanan

berat dari pihak musuh, Eyang

Langlangbuana memilih jalan

akhirnya sendiri, yaitu meninggal

secara wajar.

Menurut sebuah sumber, makam

Eyang Langlangbuana berada di

kawasan Cibule, di kaki Gunung

Pangrango, Cianjur.

Sudah barang tentu, Eyang

Langlangbuana termasuk leluhur

yang memiliki jasa besar bagi

Pajajaran. Makamnya kini sangat

dikeramatkan. “Namun, untuk

dapat mencapainya, boleh dikata

tidaklah gampang. Sebab, disamping

lokasinya yang berada di kedalaman

hutan yang rimbun, juga untuk tiba

di sana kita pun harus siap berjalan

jongkok dan merayap, dikarenakan

makam itu terkurung oleh pohon-

pohon yang besar,” tegas sumber

Misteri yang enggan disebutkan

namanya.

Sementara, berkaitan dengan cerita

keleluhuran Eyang Langlangbuana

yang nama besarnya kini diabadikan

sebagai simbol kesatuan kepolisian

Jawa Barat, terungkap sebuah

informasi kalau ternyata senjata

pusakanya adalah sebilah golok

yang panjangnya sekitar satu meter.

Pusaka ini sekarang berada di

tangan seorang kolektor di

Bandung.

Karena bahannya yang bukan

sembarangan, pusaka Eyang

Langlangbuana tersebut diyakini

menyimpan tuah tertentu. Menurut

sang pemilik, banyak kalangan yang

berhasrat untuk dapat memilikinya.

“Golok ini berkhodam seekor

harimau gaib berbulu hitam, jelmaan

dari Eyang Langlangbuana. Golok ini

merupakan perangkat beladiri yang

sangat ringan untuk dimainkan.

Sehingga, banyaknya pihak yang

berminat,” kata sang pemilik yang

juga enggan disebut identitasnya.

Menurut pengakuannya, golok yang

bergagang berupa ukiran kepala

harimau hitam itu adalah benar-

benar asli. Benda tersebut

merupakan warisan dari para

leluhurnya yang sempat mendalami

dan menyusuri sejarah Pajajaran.

?

Majalah Misteri