Senin, 28 Januari 2013

Kisah Kaboa

Termasuk kayu kaboa yang dipercaya mengandung tuah khusus. Tuah “maung Sancang”. Jenis kayu mirip bakau ini, konon hanya tumbuh di hutan Sancang. Itu pun terbatas di sekitar muara Sungai Cipareang.
Menurut Mang Andan — salah seorang narasumber folklor (ceritera rakyat) Kab. Garut untuk Tahun Buku Internasional Unesco, tahun 1972 — kayu kaboa menjadi saksi utama perjanjian antara Kian santang dengan Prabu Siliwangi. Sambil memegang sepotong kayu kaboa , Prabu Siliwangi menyatakan kepada Kian santang bahwa dirinya tidak akan dapat mengikuti ajakan Kian santang karena akan “ngahiang” (lenyap tanpa bekas) bersama anak buahnya yang setia.
“Setelah ngahiang , Prabu Siliwangi kadang-kadang menampakkan diri dalam wujud harimau putih dan menghuni Guha Garogol di tengah hutan Sancang. Para nelayan sering melihat harimau putih itu pada senja hari sedang ngadakom di puncak Karang Gajah. Karang tinggi besar di pantai curam penuh gelombang, sebelah timur muara Sungai Cipangisikan. Para pengikutnya berubah menjadi harimau belang memanjang,” kisah Mang Andan.
Harimau belang memanjang inilah yangdisebut “Maung Sancang” dan suka “bersemayam” di kayu kaboa . R.H. Mohammad Affandi, dalam bukunya “Bandung Baheula” (1969), bercerita tentang seorang penggemar tongkat. Dari ratusan tongkat miliknya,ada sebuah yang terbuat dari kayu kaboa . Tiap malam Jumat, tongkat itu sering menimbulkan suara gaduh.
Waktu dicoba diintai, di ruang peyimpanan tongkat, tampak sesosok tubuh berbulu sedang duduk-duduk santai. Seekor harimau. Keesokan harinya, pemilik tongkat mendadak sakit keras. Atas anjuran seseorang, ia harus menjual atau memberikan tongkat kayu kaboa itu jika ingin segerasembuh. Tentu saja, anjuran itu dituruti. Selain ingin sembuh, ia juga takut jika di rumahnya ada tongkat “persemayaman” harimau.
====================================================================================================
Adapun kisah lain dituturkan oleh USEP ROMLI HM Penggerak Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Raksa Sarakan di Pedesaan Kecamatan Cibiuk, Garut.
Idiom kawas badak Cihea sering muncul untuk menggambarkan seseorang berjalan bergegas, terburu-buru, tanpa melihat kiri dan kanan. Cihea adalah sebuah kawasan hutan dan perkebunan di Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur. Di situ, konon pernah ada sebuah kerajaan kecil bernama Susuru, sezaman dengan Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Pakuan (Bogor).
Sisa-sisa gambaran Kerajaan Susuru, walaupun belum terbukti secara arkeologis, masih tampak hingga sekarang di sepanjang aliran irigasi Sukarama yang berhulu di Sungai Cisokan. Sisa-sisa tersebut, antara lain, berupa lapangan yang disebut alun-alun dan tampian (tempat pemandian).
Hutan Cihea sendiri sudah lenyap ditelan perkembangan pembangunan, apalagi badak penghuninya. Masih untung tercatat dalam babasan yang masih agak terpelihara turun-temurun.
Hutan lain yang dihubungkan dengan satwa badak adalah Cipatujah di Kabupaten Tasikmalaya. Sebuah personifikasi berbunyi kawas diseupah badak Cipatujah menggambarkan keadaan benda yang hancur tak bersisa, hanya tinggal seupah (sepah) atau ampas. Seperti badak Cihea, badak Cipatujah pun sudah lenyap tak berbekas.
Badak di bagian selatan Garut mungkin bernasib lebih baik daripada badak Cihea dan badak Cipatujah, paling tidak mengacu pada informasi pengarang Sunda terkenal, Muhammad Ambri, dalam bukunya Numbuk di Sue yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada 1939. Di situ Ambri mengisahkan anak-anak sekolah dari Bandung yang berwisata ke Pantai Cilauteureun, Samudra Hindia.
Sejak keberangkatan dari Bandung, selama di perjalanan dari Cisompet ke laut hingga kepulangan kembali, mereka selalu dirundung malang. Salah satu penyebabnya adalah acara perburuan badak yang dihadiri Kangjeng Dalem (bupati) sehingga semua kuda tunggangan di tepi desa dan kecamatan terpakai oleh para camat dan kuwu yang ikut berburu.
Kehebatan profil badak dan kegaduhan para pemburunya diper-oleh tokoh kuring dari Suanta yang menjadi gundal (pembantu) Juragan Camat yang mendampingi Kangjeng Dalem. Numbuk di Sue merupakan karya fiksi, tetapi cukup akurat mengungkapkan keadaan alam tahun 1930-an yang masih serba sederhana dan lingkungan alamnya masih terpelihara. Karena itu, masih banyak rawa di tengah hutan tempat pangguyangan badak. Leuweung Sancang
Kawasan selatan Garut memang memiliki hutan legendaris, yaitu Leuweung Sancang. Banyak kisah mengandung kepercayaan (mitos) yang menganggap Sancang sebagai tempat tilem (menghilang) Prabu Siliwangi. Menurut cerita rakyat yang berhasil dikumpulkan oleh panitia Hari Buku International Indonesia yang diprakarsai Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) pada 1972, Prabu Siliwangi mubus (kabur menyelinap) ke arah selatan karena dikejar-kejar anaknya, Kiansantang, agar masuk Islam.
Tiba di Hutan Sancang, ia bersama pengikut setianya menghilang. Prabu Siliwangi mindarupa (berubah wujud) menjadi harimau putih, sedangkan pengikutnya menjadi harimau belang manjang yang disebut maung Sancang.Warna garis-garis hitam horizontal yang memanjang dari arah kepala ke bagian ekor membedakan maung Sancang dengan maung Lodaya, penghuni asli Sancang yang bergaris-garis hitam vertikal.
Konon harimau putih jelmaan Prabu Siliwangi bersemayam di sebuah goa besar bernama Guha Garogol dan sesekali merenung menyendiri di puncak Karang Gajah di dekat muara Sungai Cikaingan. Adapun maung Sancang mendiami rumpun-rumpun kayu kaboa, sejenis pohon bakau, yang hanya terdapat di pantai Samudra Hindia kawasan Sancang.
Hingga pertengahan tahun 1980-an, Hutan Sancang sebagai hutan tutupan suaka margasatwa masih terbilang utuh, tetapi segera mengalami degradasi hebat seiring dengan penyerobotan dan pembalakan liar pada tahun 1998. Salah satu satwa liar penghuni Sancang, banteng, hilang lenyap tak berbekas. Mungkin satwa itukabur ke arah Hutan Pangandaran yangmasih cocok untuk habitat banteng atau mungkin bergelimpangan mati akibat dampak perusakan hutan. Nasib banteng Sancang sangat mirip dengan nasib banteng Cikepuh, Kabupaten Sukabumi, yang juga rusak terkena penyelewengan eforia reformasi.
Area Hutan Sancang kini menyempit karena sebagian terkena pembangunanjalur jalan lintas selatan. Kondisi keamanannya sangat rawan. Kekayaan flora dan faunanya juga sangat menyusut. Selain kehilangan banteng, Sancang juga kehilangan berbagai jenis burung langka, seperti rangkong dan julang, serta harimau, baik maung Sancang maupun maung Lodaya. Jenis kayu werejit yang getahnya mengandung racun keras ikut tumpas bersama kayu-kayu hutan tropis heterogen lainnya. Yang masih tersisa dari Hutan Sancang mungkin hanya legenda dan mitos, yang juga mulai tergerus waktu. Hutan tutupan
Lebih tragis lagi kondisi hutan tutupan Bojonglarang di dekat Pantai Jayanti, Kabupaten Cianjur. Hutan itu nyaris habis akibat dijadikan lahan jalan jalur lintas selatan dan tapak jembatan Sungai Cilaki. Orang-orang yang lewat berkendara dari dan ke Jayanti rata-rata tidak mengetahui bahwa tanah yang mereka injak-injak adalah bekas hutan tutupan yang hingga tahun 1990-an merupakan leuweung ganggong simagonggong, leuweung si sumenem jati. Hutan lebat dipenuhi aneka pohon dan binatang penghuninya.
Setelah hutan-hutan besar, terkenal, dan penuh legenda seperti Cihea, Cipatujah, Sancang, Cikepuh, dan Bojonglarang sirna dari perbendaharaan geografi Tatar Sunda, hutan mana lagi akan menyusul mulang ka kalanggengan?
Mungkin sekarang giliran hutan kota Babakan Siliwangi, yang sedang diperebutkan para pencinta lingkungandan pencinta keuntungan yang cenderung mendapatkan dukungan penuh Wali Kota Dada Rosada. Mungkin saja, walaupun hati nurani semua pihak menyatakan jangan dan tidak

Wordpress