Minggu, 13 Januari 2013

Nadia Saphira

Biografi

Nama Asli : Nadia Saphira Ganie

Nama Panggung : Nadia Saphira

Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 20 Oktober 1987

Anak ke : 1 dari 3 bersaudara

Tinggi Badan/Berat Badan : 165 cm/ 44 kg

Nama Ayah : Junaedy Ganie

Nama Ibu : Lely Ganie

Hobi : Nonton

Filmografi

Aktris

Jomblo (2006)

Coklat Stroberi (2007)

Cintapuccino (2007)

Coblos Cinta (2008)

Saus Kacang (2008)

Under The Tree (2009)

Sosok aktris satu ini sudah muncul dalam dua judul film nasional berturut-turut. Yang pertama ada Saus Kacang sebuah film arahan Indrayanto Kurniawan, kemudian berikutnya ada Under The Tree arahan Garin Nugroho. Figur dimaksud adalah Nadia Saphira yang tampil dengan keapikan aktingnya di sana.
”Dua-duanya bertema tentang Bali. Gaya ya...,” selorohnya sedikit menghibur diri. Mahasiswi Fakultas Hukum UPH, Lippo Karawaci ini memang boleh berbangga dengan dua film yang dimainkannya itu. ”Kan dua-duanya mengambil tema berbeda dari Balinya,” tutur Nadia lagi. Saus Kacang sendiri memang film yang ringan-ringan saja seperti diakui pula oleh sineasnya, namun ada latar belakang budaya pulau dewata yang coba diungkapkan. Sedangkan Under The Tree merupakan eksplorasi Garin atas budaya Bali dari sudut keseharian yang penuh dengan adat istiadat yang unik.
Dua film paling mutakhir dari Nadia boleh jadi sesuatu yang tak pernah dibayangkannya ketika kecil dahulu.”Engga ada tuh kebayang seperti ini. Kalau kata ayah bunda dulu aku ya suka difoto aja,” kenang cewek bersuara manja ini. Ketika beranjak besar mulailah hobi foto-foto itu tersalurkan. ”Aku ingin beli majalah yang covernya ada akunya,” demikianNadia mengutarakan obsesinya dahulu.Maka dia mulai mencoba ikut-ikutan ajang tersebut. Mungkin sudah suratantakdir, Nadiapun lolos sebagai finalis di arena pemilihan Gadis Sampul 2003.
Kendati tidak menjadi pemenang, tetap saja Nadia memperoleh kesempatan yang sama untuk meraih tiket terjun ke dunia hiburan. Ceritanya ketika itu majalah Gadis bekerjasama dengan rumah produksi SinemArt mencari pemain untuk sinetron dari film remaja yang sukses berat: Ada Apa dengan Cinta? . Dan Nadia berhasil mendapatkan peran Milly di serial televisi tersebut. ”Di sinilah saya pertama kali kenal dengan mas Indra,” kenang Nadia tentang pertemuannya dengan sutradara Saus Kacang tersebut. Sosok Indra menjadi istimewa di matanya lantaran dia memang mendukung karirnya agar sampai tidak mengganggu studi.
Sinetron itu ternyata cukup melambungkan namanya lantaran orang selalu menghubung-hubungkan dengan film layar lebarnya. Sinetron inipula yang menjadi kuncinya pada tahun 2005 untuk masuk ke layar lebar. Adalah sutradara Hanung Bramantyo yang kemudian memberikan peran Lani kepadanya dalam film Jomblo . ”Sosok Milly jauh berbeda dengan Lani yang anggun dan jutek,” cerita Nadia dengan senang. Milly sendiri adalah sosok manja dan lemot, berbeda dengan keseharian Nadia yang lancar dalam bertutur.
Film arahan Hanung ini seolah pembuka karir Nadia di layar lebar. Pasalnya, berturut-turut sosok manjanya muncul dalam Coklat Stroberi arahan Ardy Octaviand serta Cintapuccino arahan Rudi Soejarwo. Namun di bawah arahan sutradara Findo Purwono HW, sosok Nadia berubah jauh dalam Coblos Cinta .”Aku menjadi mahasiswa idealis yang akan bertarung dalam pemilihan ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa),” cerita Nadia dengan semangat.
Tetapi tentu saja masih ada hal yang paling membuat semangatnya meluap-luap. ”Alhamdulillah, selama ini saya selalu ditangani oleh sutradara top,” selorohnya dengan antusias. Top yang dimaksudkannya minimal peraih Citra macam Rudi atau Hanung misalnya. Aneka gaya arahan dari masing-masingsutradara itu membuat Nadia banyak belajar. Ucapan itu memang layak terlontar ketika kemudian Garin Nugroho menawarinya bermain dalam film Under The Tree . Perannya sebagai Nian di film itu membuatnya beradu akting dengan aktor lawas yang kenyang di pentas teater, Ikranagara.
Bersama Garin, Nadia benar-benar mendapatkan sebuah ujian mental. Selama nyaris sebulan proses syuting di pulau dewata dia harus menahan sengatan panas di pantai hingga menyaksikan sendiri upacara adat Calon Arang nan sungguh mistis. Tentusaja dia bukan pulang dengan tangan kosong juga selama berada di sana. Pasalnya, Garin memberikan pembekalan yang dirasanya unik.”Nadia, buang semua pelajaran yang kamu ketahui tentang akting,” demikian ditirukannya. Sebuah instruksi singkat namun membuat Nadia seolah terlahir kembali di tangan Garin. Dia boleh bermanja-manja macam bayi yang baru lahir kepada sang sineas. ”Aku kalau ketemu mas Garin manjanya kumat. Mas Garin... main yuk,” seloroh Nadia tentang perilakunya ketika syuting film tersebut.
Nadia hanya salah satu dari tiga karakter utama perempuan yang hadir di film itu, yang lainnya ada Marcella Zalianty sebagai Maharani dan Ayu Laksmi sebagai Dewi. Porsi peran Nadia sebagai Nian di sana membuatnya kuduberadu akting dengan aktor lawas yangkenyang di pentas teater, Ikranagara. Nian adalah gadis kaya usia 20 tahun asal Jakarta yang sedang berlibur di Bali. Tiba-tiba dia menemukan makna cinta dalam diri seorang pria sepuh usia60. Aduh...
Seperti apa sih proses gambaran asmaranya? ”Lahir tanpa cinta, jatuh cinta tanpa kata... Beh...,” demikian deskripsinya tentang episode Nian itu. Sejenak Nadia sempat ragu untuk memainkan kisah cinta nan absurd tersebut. ”Gue nyari chemistry -nya bagaimana?” tanyanya. Justru di sanalah tantangannya. Garin memberikannya kesempatan untuk menggambarkan sendiri seperti apa sihkarakter Nian dan dialog apa yang pas di sana.