Kamis, 31 Januari 2013

Self Medication, Boleh Saja!

Bisa dibilang pengobatan sendiri
merupakan upaya yang paling
banyak dilakukan masyarakat
untuk mengatasi keluhan atau
gejala penyakit, sebelum
akhirnya memutuskan mencari pertolongan ke petugas kesehatan. Bila dilakukan dengan benar, pengobatan sendiri bisa sangat berguna. Sebaliknya, bila dikerjakan serabutan, bukannya mengobati malah tambah bikin sakit. Ada beberapa nilai plus bila kita
menerapkan pengobatan sendiri.
Kita bisa menghemat biaya,
tenaga, dan waktu. Semisal sakit
flu. Kita bisa sembuh dengan
makan obat yang dijual bebas di apotek, dengan harga yang
terjangkau. Bandingkan bila
harus ke dokter. Kita perlu
menyediakan transportasi dan
antre menunggu giliran diperiksa
dokter. Belum lagi membayar jasa dokter plus obatnya.
“Untuk penyakit yang sama,
sebetulnya bisa kita obati
dengan cara yang sederhana.
Apalagi negara berkembang
seperti Indonesia, langkah pengobatan sendiri memang ada
baiknya,” ujar Prof. Dr. dr.
Rianto Setiabudy, Sp.FK.(K),
spesialis Farmakologi dan
Terapeutik di Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Namun, pelaku pengobatan
sendiri ini harus tetap berhati-
hati. Ada penyakit yang boleh
diobati sendiri, ada pula yang
wajib dikonsultasikan ke dokter.
Penyakit yang bisa diatasi dengan pengobatan sendiri,
yakni penyakit yang sembuh
dengan cepat dan umumnya
tidak berbahaya. Misalnya batuk,
pilek, dan panas yang merupakan
gejala flu. Penyakit macam ini tak perlu ke dokter, kecuali ada
komplikasi. Lamanya mengkonsumsi obat
juga tak kalah penting. Obat-obat
dalam proses pengobatan sendiri
ini bukanlah obat yang bisa
dikonsumsi dalam jangka
panjang. Waktu amannnya 5-7 hari, tapi Rianto mengingatkan,
bila kondisi kesehatan tubuh
memburuk dalam waktu singkat,
artinya harus segera periksa ke
dokter. Lalu, penyakit apa yang tidak
boleh diobati sendiri?
Kebanyakan kasus yang terjadi,
menurut pemaparan Rianto,
yakni adanya salah kaprah
penanganan penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Penyakit yang cenderung
memberat dari waktu ke waktu
ini tak boleh sembarangan
diobati. Rianto pun bercerita, banyak
pasien yang menderita
hipertensi lalu minum obat
tertentu atas saran temannya.
Alasannya, karena sama-sama
mengalami sakit kepala. “Sakit kepala dan tekanan darah tinggi
itu tidak ada hubungannya.
Banyak pasien sakit kepala, tapi
tidak punya tekanan darah
tinggi. Bayangkan, tekanan
darahnya bisa anjlok,” tutur Rianto. Pun sebaliknya, ada
pasien yang tekanan darahnya
sangat tinggi, tapi tidak terasa
sakit kepala. Makanya butuh
kewaspadaan ekstra dalam
mengkonsumsi obat.[intisari