Rabu, 06 Februari 2013

Bary Prima Sang Aktor Laga

Wajah indo, tubuh kekar, serta
kemampuan beladirinya pernah
menghiasi layar lebar di tahun
80-an. Setelah masa
keemasannya berakhir, aktor
laga senior yang menguasai beladiri taekwondo ini kembali
berakting dengan memainkan
peran lain yang lebih
menantang.

Hubertus Knoch atau lebih
tersohor dengan nama panggung
Barry Prima dikenal sebagai
aktor laga yang populer sekitar
tahun 80-an. Di masa jayanya, Barry merupakan salah satu
aktor laga kenamaan Indonesia,
di samping nama-nama lain
seperti Advent Bangun dan
George Rudy. Ia selalu
memerankan tokoh jagoan di setiap film yang dibintanginya. Aktor blasteran ini lahir di
Bandung, Jawa Barat, pada tahun
1955. Ayahnya adalah seorang
dokter Belanda, sementara
ibunya asli orang Indonesia.
Sejak masih belia, sulung dari empat bersaudara ini sudah
menunjukkan ketertarikannya
pada olahraga beladiri, terutama
Taekwondo. Barry mendalami
seni beladiri asal Korea itu di
sebuah studio kecil yang terletak di belakang rumahnya di Jalan
Dago, Bandung. Gurunya saat itu
bernama Master Kang asal
Malaysia. Wajah tampan, tubuh atletis,
ditambah keahlian beladirinya
langsung mencuri perhatian
produser Gope T. Samtani, yang
pada tahun 1978 menawarinya
sebuah peran kecil dalam film horor dewasa berjudul Primitif.
Film produksi Rapi Films besutan
sutradara Sisworo Gautama
Putra itu bercerita tentang
sekelompok mahasiswa
antropologi dan pemandu mereka yang diburu kawanan
kanibal di hutan rimba. Primitif
merupakan film Indonesia
pertama yang mengangkat kisah
kanibalisme. Meski sempat
dianggap kontroversial, film yang menjadi debut Barry Prima
sebagai aktor itu cukup sukses di
pasaran. Sejak keberhasilannya
membintangi film tersebut, Gope
T Samtani, produser film itu,
mengganti nama Hubertus Knoch menjadi Barry Prima agar
terdengar lebih komersil. Setahun kemudian, Barry tampil
dalam film bergenre aksi laga
horor dewasa berjudul Serbuan
Halilintar yang kemudian
berhasil mengangkat namanya di
jagad perfilman nasional. Film produksi Parkit Films itu
merupakan salah satu film
Indonesia pertama yang
menggabungkan unsur aksi dan
supernatural dengan
menggunakan banyak efek khusus. Selain itu, film yang juga
dibintangi aktor pemeran Pitung,
Dicky Zulkarnaen, itu dirilis
perdana bukan di Indonesia,
melainkan di pasar internasional
dengan mengusung judul Special Silencers. Serbuan Halilintar
bahkan sempat dirilis dalam
bentuk DVD dengan dialog
bahasa Inggris dan teks
terjemahan bahasa Belanda oleh
perusahaan distributor film Delta Video. Setelah mendapat sambutan
cukup memuaskan di pasar
internasional, baru kemudian
film ini dirilis di Indonesia pada
tahun 1982. Sebelum dapat
dinikmati penonton di Tanah Air, film Special Silencers versi
Indonesia ini harus terlebih
dahulu mengalami banyak
guntingan dari Badan Sensor Film
karena maraknya unsur
eksploitasi seks dan kekerasan, walaupun sebenarnya film ini
memang ditujukan untuk
penonton dewasa. Di masa jayanya, Barry
merupakan salah satu aktor laga
kenamaan Indonesia, di samping
nama-nama lain seperti Advent
Bangun dan George Rudy. Ia
selalu memerankan tokoh jagoan di setiap film yang
dibintanginya. Selain berhasil mengangkat
nama Barry Prima sebagai aktor
laga, film garapan sutradara
Arizal itu juga mempertemukan
sang aktor utama dengan aktris
cantik Eva Arnaz, lawan main yang kemudian menjadi
pendamping hidupnya meski
kemudian keduanya
memutuskan untuk bercerai. Dua
sejoli itu kembali dipasangkan
dalam sejumlah judul film yakni Membakar Matahari, Bergola Ijo,
dan Perempuan Bergairah. Sama
seperti Serbuan Halilintar, judul
film terakhir juga dikenal di luar
negeri sebagai Ferocious Female
Freedom Fighters. Nama Barry Prima baru benar-
benar meroket di tahun 1981
setelah tampil dalam film laga
Jaka Sembung Sang Penakluk
garapan sutradara Sisworo
Gautama Putra. Film yang diadaptasi dari komik populer
karya Djair itu dibanjiri penonton
bahkan berhasil diedarkan keluar
negeri dengan judul The Warrior.
Hingga saat ini, Jaka Sembung
merupakan salah satu film cult terfavorit dari Indonesia.
Kesuksesan film tersebut
membuat pihak Rapi Films
memproduksi beberapa
sekuelnya, yaitu Bajing Ireng dan
Jaka Sembung, serta Si Buta lawan Jaka Sembung, keduanya
dirilis pada tahun 1983. Bajing
Ireng dan Jaka Sembung bahkan
sempat masuk sebagai nominasi
di ajang FFI (Festival Film
Indonesia) untuk kategori Peran Pembantu Terbaik (El Manik) dan
Editing. Tujuh tahun berselang,
rumah produksi Andalas Kencana
merilis sekuel lain Jaka Sembung
dengan mengusung judul Jaka
Sembung dan Dewi Samudra. Sayangnya film tersebut secara
kualitas masih kalah bersaing
dengan Jaka Sembung versi Rapi
Films. Memasuki tahun 1982, Barry
kembali digandeng Sisworo
Gautama Putra untuk berperan
dalam film-film horor terkenal
yang dibintangi si Ratu Film
Horor, Suzanna, yaitu Nyi Blorong, Sundel Bolong, dan Ratu
Sakti Calon Arang. Selain film-
film bergenre laga dan horor,
Barry juga pernah memamerkan
kebolehan aktingnya dalam film
perjuangan karya Imam Tantowi yang berjudul Pasukan Berani
Mati. Pada1984, Barry Prima tampil
bersama Advent Bangun dalam
film Golok Setan (The Devil's
Sword) garapan sutradara
sekaligus aktor senior Ratno
Timoer, yang terkenal sebagai pemeran Si Buta dari Goa Hantu.
Film tersebut disadur dari komik
karya Man dan skenarionya
ditulis oleh Imam Tantowi. Meski
memasang dua nama aktor laga
yang terkenal saat itu, film Golok Setan dianggap aneh, lantaran
dalam salah satu adegannya
terdapat pertarungan antara
Barry dengan Manusia Buaya
yang didukung oleh special effect
yang masih bertaraf rendah. Namun film ini berhasil dijual ke
luar negeri bahkan menjadi salah
satu film cult yang populer.
Golok Setan juga telah di-
dubbing ke dalam bahasa
Inggris, kemudian diremaster dan diedarkan dalam bentuk DVD
di Amerika Serikat. Keberhasilan Rapi Films menjual
film-film ke mancanegara,
akhirnya mendorong mereka
untuk mendatangkan crew dan
pemain dari luar negeri.
Tujuannya tentu saja agar lebih laku dijual di sana. Salah satu
bintang film yang pernah mereka
datangkan adalah Chris Mitchum,
putra aktor terkenal Amerika
Serikat, Robert Mitchum yang
sempat populer di tahun 70an. Chris kemudian disandingkan
bersama Barry dalam film
Menentang Maut yang dirilis
tahun 1984. Film tersebut
diedarkan di luar negeri dengan
judul No Time To Die. Kehadiran aktor asing itu membuat Barry
tersingkir dari posisinya sebagai
aktor utama. Setelah itu, Barry kembali
didapuk sebagai pemeran utama
antara lain dalam film Mandala
Dari Sungai Ular, Carok,
Menumpas Teroris, Residivis,
Siluman Srigala Putih, Kelabang Seribu, Si Rawing, Tarzan Raja
Rimba, Jampang, Walet Merah,
dan masih banyak lagi. Pada awal tahun 90-an, film-film
yang dibintangi Barry semakin
merosot mutunya sejalan
dengan terpuruknya film
Indonesia. Sejak saat itu,
namanya hampir tak terdengar lagi, hingga di pertengahan
tahun 2000-an, ia kembali tampil
dalam serial TV berjudul Jaka
Tanding. Sayang kemunculannya
tidak terlalu menyedot perhatian
lantaran serial tersebut tidak begitu terdengar gaungnya. Titik balik karirnya sebagai aktor
baru terjadi di tahun 2005, saat
ia membintangi film Janji Joni.
Film tersebut merupakan karya
perdana sutradara muda Joko
Anwar, seorang kritikus film yang sebelumnya dikenal
sebagai penulis skenario film
Arisan!. Jika di masa jayanya
dulu, Barry kerap didaulat
menjadi pemeran utama yang
bertindak sebagai jagoan, di film drama komedi ini, Barry
dipercaya untuk berperan
sebagai supir taksi. Meski hanya
kebagian peran pendukung,
Barry dinilai cukup sukses bahkan
namanya masuk dalam daftar nominasi Pemeran Pembantu
Pria Favorit di ajang MTV
Indonesia Movie Awards. Selanjutnya di tahun 2006, Barry
membintangi sinetron berjudul
Emak Gue Jagoan. Sinetron yang
juga diperankan lady rocker asal
Bandung, Nicky Astria, itu
bahkan dinobatkan sebagai Sinetron Laga dan Misteri Terpuji
dalam ajang Festival Film
Bandung. Meski puluhan tahun namanya
tersohor sebagai aktor laga,
Barry tidak menutup diri dengan
peran lain bahkan yang dianggap
nyeleneh sekali pun. Hal itu
dibuktikannya saat tampil dalam film berjudul Realita, Cinta dan
Rock 'n Roll. Di film karya Upi
Avianto ini, Barry berperan
sebagai ayah transeksual. Barry
yang sebelumnya dikenal publik
lewat peran-perannya sebagai pria macho, gagah, dan perkasa
harus tampil berakting dengan
bahasa tubuh yang gemulai
lengkap dengan makeup tebal
yang menghiasi wajahnya. Upi, sang sutradara, sebelumnya
mengaku takut menyodorkan
peran itu pada Barry. Ia khawatir
tawaran itu justru bakal
menyinggungnya. Namun di luar
dugaan, Barry menyambut hangat tawaran tersebut, “Dia
suka dengan skenarionya dan
akhirnya mau,” kenang Upi
seperti dikutip dari situs
kompas.com. Ibu satu anak itu
kagum, karena Barry mampu bekerja sama dengan baik, meski
awalnya masih kelihatan egonya
sebagai aktor senior. Upi semakin salut dengan sikap
profesional Barry demi
menyelami karakter yang
diperankannya. Barry bahkan
langsung berlatih bagaimana
caranya mengenakan sepatu hak tinggi dan berlatih dansa. Peran
nyeleneh itu setidaknya sedikit
mengubah pandangan orang,
bahwa ia juga cukup mampu
bermain film yang tak hanya
mengandalkan aksi bela dirinya. Aktor yang enggan mengumbar
kehidupan pribadinya dan
cenderung tertutup pada media
ini juga ikut membintangi film
Koper garapan sutradara Richard
Oh, kemudian film horor berjudul Enam karya sutradara Stephen
Odang dan Rico Bradley.
Penampilan terakhirnya di layar
lebar adalah dalam film Tarik
Jabrix 3 tahun 2011.