Kamis, 07 Februari 2013

Indah Dewi Pertiwi

Indah Dewi Pertiwi (lahir di Kota Bogor, 30 Januari 1991; umur 22 tahun) merupakan seorang penyanyi berkebangsaan Indonesia. Dia menjadi terkenal saat menyanyikan lagu utamanya yang berjudul Baru Aku Tahu Cinta Itu Apa. Dia berkarir di dunia musik sejak tahun 2010. Album Pertamanya Hipnotis telah terjual lebih dari 2 juta kopi. Foto Model Sebelum menjadi penyanyi, pada tahun 2007 Indah Dewi Pertiwi pernah menjadi foto model panas majalah dengan menggunakan bikini dengan nama samaran Nell dan hal ini telah diakuinya.

Album Hipnotis (2010) Senandung Ramadhan [Kompilasi] (2010) Hipnotis, Entertaiment Edition [Repacked] (2010) Teman Ter-Indah (2012) Single Aku Tak Berdaya (2011) ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Penghargaan Dahsyatnya Awards 2012 : Penyanyi Solo Wanita Terdahsyat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI): Penjualan CD album terbanyak dan tercepat, tembus 2 juta keping.

Dara manis yang lahir pada 30
Januari 1991 ini terbilang masih
sangat belia. Tapi, bakatnya di bidang tarik suara membuat
namanya terangkat di industri musik tanah air. Semasa kecil ia di didik keras untuk bersekolah. Walau begitu,Indah kecil mengaku memang sering berakting layaknya artis. Aku sebenarnya terlahir dengan nama Indah Pertiwi. Aku anak
pertama dari empat bersaudara.
Adikku dua laki-laki dan satu
perempuan. Usiaku dengan
mereka terpaut lumayan jauh. Masa kecilku banyak dihabiskan di Desa Cibeureum, terletak di kaki Gunung Salak, Bogor. Jadi,
pematang sawah dan sungai
adalah peman dangan dan tempat mainku sehari-hari. Mamaku, Yuyu Wahyuni, keturunan Jawa dan Papaku,
Rohdi, asli Bogor. Sebelum punya
adik, aku senang sekali bisa
bermanja-manja pada Papa dan
Mama. Papa seorang wiraswastawan, memiliki usaha
produksi sandal yang sudah turun-
temurun dimiliki keluarga. Mulai
dari mendesain, membuat, dan
memasarkannya beliau lakukan
sendiri. Karena pekarangan rumahku cukup luas, dibuatlah
bengkel produksi sepatu yang
menampung para perajin. Mereka
semua bekerja pada Papa.
Sedangkan Mama, hanya ibu
rumah tangga biasa yang merawatku dan adik-adik. Menurut orangtuaku, waktu kecil
aku tergolong manja dan cengeng.
Sebentar-sebentar pasti menangis.
Ke sekolah pun harus selalu
diantar. Aku juga selalu ingin
diperhatikan. Saking cengengnya, ketika sahabatku, Yanti, tak masuk
sekolah dan aku sendirian tanpa
dia, aku juga menangis. Untung
saja guru kelasku masih temannya
Mama, jadi Mama menitipkanku
kalau saja aku menangis. Ya, bagaimana lagi, rasanya saat
itu aku memang tak bisa ditinggal
sendirian. Ketika adikku yang
kedua lahir, aku sudah lebih bisa
mengerti situasi. Karena di rumah
tak punya pembantu, aku suka membantu Mama masak di dapur.
Jika tiba waktunya bermain, aku
lebih suka memanjat pohon jambu
yang ada di depan rumah. Sambil
bawa bekal makanan, aku dan
teman-teman juga suka ke sawah dan bermain air di sungai.
Sungguh menyenangkan. Terlatih Disiplin Waktu kecil aku sangat dekat
dengan Papa. Tapi, beliau sangat
keras dalam mendidik anak. Baik
untuk urusan sekolah, belajar,
waktu tidur, hingga main. Di
kampungku memang kental dengan nuansa religius. Rumahku
kebetulan berdekatan dengan
rumah keluarga besar Papa.
Sekolah pun jaraknya tak jauh.
Jadwalku setiap hari, mulai pagi
hingga siang aku sekolah, pulangnya mengaji dan
dilanjutkan belajar. Setiap tiba
waktu Maghrib, aku harus berdiam
diri di rumah. Ya, aku memang
anak rumahan. Aku suka sekali menonton film
kartun. Setiap hari Minggu, aku
pasti bersiap di depan televisi,
menunggu tayangan favoritku,
Doraemon, Shinchan , dan Sailor
Moon . Kadang, Mama mengajakku pergi ke rumah nenek. Waktu
bermain memang sedikit longgar
di akhir pekan. Tapi, tetap saja aku
tak boleh main jauh-jauh. Meski
disiplin, Papa sangat sayang pada
anak-anaknya. Kadang, bila ada acara 17 Agustus-an, Papa suka
mengajakku nonton layar tancap
di lapangan. Cara Papa mendidik anak memang
keras, tapi terbukti ampuh.
Disiplin yang diterapkan dalam
belajar, membuatku mudah
menyerap pelajaran dan
menghadapi ulangan. Begitu pun untuk pendidikan agama, yang
aku dapat dari mengaji. Oh ya, aku
juga sering juara kelas, lho. Waktu
SMP, aku bahkan dapat beasiswa.
Kebetulan ketika SMP aku dapat
kelas siang, jadi paginya Papa menyuruhku ikut les matematika
dan Bahasa Inggris. Pokoknya,
nyaris tiada hari tanpa belajar. Speaker Aktif Duduk di bangku SMP, aku mulai
aktif dan gemar berolahraga. Di
sekolah aku ikut ekstrakulikuler
basket dan voli, juga paskibraka
dan pramuka. Karena sering
berpanas-panasan, tak heran kulitku jadi hitam. Di antara teman
dekat, aku dijuluki “speaker
aktif” karena gaya bicaraku yang
ramai. Saat itu, aku sudah punya
geng yang terdiri dari enam
orang. Kami selalu bersama-sama. Saking banyaknya kegiatan,
prestasiku di sekolah sempat
menurun. Apalagi saat itu aku
sudah kenal yang namanya
pacaran. Aku masih ingat,
pertama kali pacaran dengan kakak kelas dua. Kami suka
berkirim surat. Setiap pulang
sekolah, kami jalan kaki sama-
sama. Dari dia, aku kenal kakak-
kakak kelas yang lain. Inginnya,
sih, agar aman dari gojlokan, jadi pacaran dengan kakak kelas. Ha ha
ha.. Untung saja, orang tuaku tak
tahu aku pacaran. Kalau tahu,
pasti aku dimarahi. Sejak SMP aku memang senang
bernyanyi. Mama sering menyetel
lagu pop barat di rumah.
Sedangkan Papa, sukanya lagu
dangdut. Bila sedang menyapu
halaman, aku suka pasang lagu agar makin semangat. Pulang
sekolah juga begitu, sambil
mematut diri di depan kaca, aku
berakting layaknya pemain
sinetron. Aku suka berkhayal jadi
apa saja, terutama jadi artis. Pernah, saat orang tuaku sedang
makan, aku jalan bak peragawati
di depan mereka. Sepatu tinggi
milik Mama jadi korbannya.
Akibatnya, aku diimarahi. Tapi,
omong-omong soal sepatu, sejak remaja aku memang sudah gemar
pakai sepatu hak tinggi.
sementara bakat seni, menurun
dari keluarga Mamaku. Ada
keponakan beliau yang jadi
penyanyi dari kafe ke kafe. Bagiku, menyanyi itu menyenangkan. Tinggal Terpisah Menginjak kelas 2 SMP, ada pentas
s eni kenaikan kelas. Sekolahku
mengadakan lomba menyanyi
seru-seruan ala Akademi Fantasi
Indosiar (AFI), acara pencarian
bakat yang populer pada masa itu. Dari tiap kelas dipilih satu orang
perwakilan, pemenangnya diambil
dari “voting ” lewat SMS. Yang
kalah, turun dari panggung sambil
membawa koper. Saat itu aku menyanyikan lagu
Bunda milik Melly Goeslaw. Aku
berhasil jadi juara pertama dan
hadiahnya berupa peralatan
sekolah. Lagu itu sangat mewakili
perasaanku yang gundah melihat Mama dan Papa yang ketika itu
kerap bertengkar. Mereka saling
diam dan pisah rumah tanpa aku
tahu mesti bagaimana. Bahkan
aku sempat dipindahkan ke rumah
nenek. Ketika Mamaku selesai ambil rapor
dan melihatku menyanyi di
panggung, beliau menangis.
Begitu juga teman-teman yang
tahu keluh kesahku. Aku sangat
sedih melihatnya. Lulus SMP, aku tinggal bersama nenek. Rumah nya
ber ada di Cikaret, berdekatan
dengan pusat Kota Bogor. Dulu,
setiap bicara logat Sunda-ku
sangat kental. Aku malu dan tak
percaya diri karena sering diledek saudara-saudaraku yang tinggal di
kota. Ya, namanya juga besar di
kampung, tak heran lidahnya
sudah terbentuk dengan logat itu.
Ha ha ha.. Aku pindah atas pertimbangan
orang tua. Meski uang saku tetap
dikirim tiap bulan, mereka ingin
anak pertamanya mandiri dan
berani. Mama pernah bilang, agar
aku punya pengetahuan luas dan bisa sekolah setinggi-tingginya.
Dengan tinggal terpisah, menurut
mereka, akan bermanfaat bagiku
kelak. Barulah aku mengerti, kehidupan
kota sangat berbeda dengan di
desa. Ramai oleh kendaraan dan
hawanya tak sedingin seperti di
desaku. Awalnya, aku sering
menangis karena jauh dari keluarga. Dulu, bila ingin sesuatu
bisa langsung dibelikan, kini aku
harus mengatur sendiri uangku.
Mengirit jajan pun aku lakukan,
padahal di depan rumah nenek
banyak tukang makanan yang lewat. Yang paling sering
menengokku adalah Mama. Karena
Papa sibuk di bengkel sepatunya.
Karena itu, menginjak remaja aku
jadi lebih dekat dengan Mama. Ketika SMU, aku juga pernah ikut
lomba, lho. Tapi, bukan menyanyi.
Aku mulai senang ikut perlombaan
model yang diadakan di mal. Jalan
di catwalk , dandan, dan memilih
baju, aku lakukan sendiri. Hasilnya, aku juara 2 dan dapat piala
sekaligus uang tunai Rp 700 ribu.
Rasanya senang sekali bisa cari
uang sendiri. Sementara prestasi sekolah, meski
nilai dan ranking -nya tak seperti
waktu di SMP, tapi aku sangat suka
pelajaran akuntansi. Puas rasanya
jika bisa memecahkan rumus
hitung-hitungan ala ekonomi. Sejak saat itu, aku pun bercita-cita
jadi seorang akuntan. Namanya juga masa-masa SMU,
aku mulai senang main dan
nongkrong sepulang sekolah
bersama teman dan saudara-
saudaraku yang lain. Apalagi tak
jauh dari sekolah ada mal. Pergaulan dan pertemananku pun
bertambah luas. Beberapa kali aku
juga pergi ke Jakarta untuk
menemani mereka. Banyak teman,
banyak rezeki. Aku percaya itu,
karena berkat pertemananlah aku bisa mendapat informasi
mengenai banyak hal dan
kesempatan.