Sabtu, 02 Februari 2013

Radio Internet: Lahan Baru untuk Berkarya

“Berapa frekuensi Marketeers Radio?”atau “Berapa frekuensi Berisik Radio?”Sampai rambut rontok,
pertanyaan-pertanyaan tadi
dijamin tak bakal ada jawabannya. Sebab kedua stasiun radio itu contoh radio
internet alias radio yang
“memancar” lewat koneksi
internet. Kalau mau mendengarkan, ya harus
mengakses situs web radio tersebut. Meledaknya fenomena dotcom pada 1998 dengan semakin gampangnya akses internet membuat orang berpikir bahwa bisnis akan beralih ke media online (daring). Portal-portal dotcom seperti Amazon, Yahoo, dan Hotmail tiba-tiba kebanjiran investasi. Ketika itu orang mulai berpikir, suatu saat televisi dan radio pun bisa dinikmati via internet. Prediksi itu kini mulai terbukti. Apa kabar stasiun pemancar radio konvensional? Hingga kini ribuan stasiun radio di dunia memang masih bisa bertahan, meski terdesak oleh keasyikan menyimak media lain seperti televisi atau internet dengan
media sosialnya. Kondisinya kira-
kira seperti digambarkan The
Buggles: video killed the radio
star. Nah, karena itulah radio
yang beroperasi di internet, menjadi peluang yang menjanjikan. Pemicu munculnya radio internet bisa jadi dipicu juga oleh mahalnya membangun stasiun radio konvensional. “Antara Rp2 miliar sampai Rp5 miliar.
Kami ingin beli, tapi tidak mampu. Makanya cari alternatif,” ujar Waizly, Chief
Operations Marketeers Radio (M
Radio - the-marketeers.com/m-
radio). Belum lagi, kata Waizly,
mendapatkan frekuensi baru di
Jakarta sangat sulit. Kalau mau
akuisisi radio yang sudah ada
pun, harganya tak jauh beda.
Begitulah situasi awal mula Marketeers membangun sebuah
radio internet pada 2009. Waizly
mengutarakan, booming-nya
radio internet menggoda
sejumlah pengusaha untuk ambil
bagian dalam ranah tersebut. Di Amerika, kata Waizly, malah ada
yang membuat radio tape khusus untuk mendengarkan
radio internet. Pun, ada radio
internet dengan model berlangganan. Di Indonesia sendiri, mewabahnya radio internet diyakini Waizly terjadi sekitar 2007. Program untuk membuat radio internet pun bertebaran.
Tinggal pilih dan unduh. “Kalau sekadar men-streaming-kan
radio konvensional, sejak tahun
2000 juga sudah ada,” imbuh
Waizly. Karena penasaran dengan radio internet, banyak pula yang coba- coba bikin. Termasuk Waizly yang pertama kali membuat radio internet pada 2001, ketika sedang di Belanda. Ia siaran bersama teman-temannya yang kebetulan lintas negara, yakni
Inggris dan Amerika Serikat. Begitulah mudahnya membuat
radio internet. Siapa pun dan di
mana pun bisa melakukan.
Modalnya pun terbilang murah
jika dibandingkan dengan
membuat radio konvensional. M Radio hanya membutuhkan modal sekitar Rp30 juta. Berisik
Radio (berisikradio.com) bahkan
lebih murah lagi. Rudyanto,
Program Director sekaligus
pendiri Berisik Radio, mengaku cuma menghabiskan Rp7 juta
untuk modal awal. Sayangnya, tak banyak orang yang serius menggarap ladang ini. Kadang malah sekadar mencoba. Begitu radio internet jadi, ditinggalkan begitu saja.“Mungkin mimpinya hanya sebatas membuat radio internet.
Tidak coba untuk mengembangkannya,” kata
Rudy. Bagaimana, Anda berminat bikin radio internet?[intisari]