Selasa, 07 Mei 2013

Ruqyah

  Ruqyah (dengan huruf ra’ di dhammah)
adalah yaitu bacaan untuk pengobatan
syar’i (berdasarkan riwayat yang shahih
atau sesuai ketentuan ketentuan yang
telah disepakati oleh para ulama) untuk
melindungi diri dan untuk mengobati
orang sakit. Bacaan ruqyah berupa ayat
ayat al-Qur’an dan doa doa yang telah
diajarkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam.
Tidak diragukan lagi, bahwa
penyembuhan dengan Al-Qur’an dan
dengan apa yang diajarkan oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam berupa
ruqyah merupakan penyembuhan yang
bermanfaat sekaligus penawar yang
sempurna bagi penyakit hati dan fisik
dan bagi penyakit dunia dan akhirat.
Bagaimana mungkin penyakit itu mampu
melawan firman-firman Rabb bumi dan
langit yang jika firman-firman itu turun
ke gunung makai ia akan
memporakporandakan gunung gunung.
Oleh karena itu tidak ada satu penyakit
hati maupun penyakit fisik melainkan ada
penyembuhnya.
Adab Ruqyah Orang Meruqyah
Bacaan ruqyah tidak akan berguna
terhadap orang yang sakit kecuali dengan
beberapa syarat:
Pertama: Pantasnya orang yang
meruqyah adalah seorang yang baik,
shalih, konsisten (istiqamah),
memelihara shalat, ibadah, dizkir-dzikir,
bacaan, amal-amal shalih, banyak
melakukan kebaikan, jauh dari perbuatan
maksiat, bid’ah, kemungkaran-
kemungkaran, dosa-dosa besar dan kecil,
berusaha selalu makan yang halal,
khawatir dari harta yang haram, atau
syubhat, karena sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
“Perbaikilah makananmu, niscaya kamu
menjadi orang yang doanya terkabul.”
“Beliau menyebutkan seseorang yang
melakukan perjalanan jauh, (rambut)
kusust berdebu, mengelurukan tangannya
ke langit seraya (berkata), ‘Wahai
Rabbku, wahai Rabbku,’ sedangkan
makanannya haram, minumannya haram,
pakaiannya haram, diberi makanan
dengan yang haram, maka bagaimana
bisa dikabulkan karena hal itu.”
Makanan yang halal termasuk di antara
penyebab dikabulkan doa. Di antaranya
lagi adalah tidak menentukan upah atas
orang yang sakit, menjauhkan diri dari
mengambil upah yang lebih dari
kebutuhannya. Maka semua itu lebih
mendukung kemanjuran ruqyahnya.
Kedua: Mengenal ruqyah-ruqyah yang
dibolehkan berupa ayat-ayat Alquran
seperti al-Fatihah, al-Mu’awwidzatain,
dan akhirnya, ayat Kursi, akhir surat at-
Taubah, permulaan surah Yunus,
permulaan surah an-Nahl, akhir surah
al-Isra, permulaan surah Thaha, akhir
surah al-Mu’minun, permulaan surah
ash-Shaffat, permulaan surah Ghafir,
akhir surah al-Jatsiyah, akhir surah al-
Hasyr. Dan di antara doa-doa Alquran
yang disebutkan terdapat dalam al-Kalim
ath-Thayyib dan seumpamanya, disertai
meludah sedikit setelah membaca, dan
mengulangi ayat tersebut sebagai tiga
kali umpamanya, atau lebih banyak lagi.
Ketiga: Orang yang sakit adalah orang
yang beriman, shalih, baik, takwa,
konsisten (istiqamah) atas agama, jauh
dari yang diharamkan, maksiat, sifat
aniaya, karena firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala,
“Dan Kami turunkan dari Alquran suatu
yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan Alquran
itu tidaklah menambah kepada orang-
orang yang zhalim selain kerugian.” (QS.
Al-Isra: 82)
Dan firman-Nya,
“Katakanlah, ‘Alquran itu adalah petunjuk
dan penawar bagi orang-orang yang
beriman. Dan orang-orang yang tidak
beriman pada telinga mereka ada
sumbatan, sedang Alquran itu suatu
kegelapan bagi mereka.” (QS. Fushshilat:
44)
Biasanya tidak begitu berpengaruh
terhadap ahli maksiat, meninggalkan
kewajiban, takabbur, sombong, melakukan
isbal (menjulurkan pakaian hingga
menutupi mata kaki, pen.), mencukur
jenggot, ketinggalan shalat dan
menundanya, melalaikan ibadah dan
seumpama yang demikian itu.
Keempat: Orang yang sakit meyakini
bahwa Alquran adalah penawar, rahmat,
dan obat yang berguna. Apabila ia ragu-
ragu, maka hal itu tidak ada gunanya.
Misalnya ia berkata, “Cobalah ruqyah.
Jika bermanfaat, alhamdulillah dan jika
tidak bermanfaat juga tidak apa-apa.”
Tetapi ia harus yakin dengan mantap
bahwa ayat-ayat tersebut benar-benar
bermanfaat dan sesungguhnya ayat-ayat
itulah penawar yang sebenarnya,
sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Maka, apabila syarat-syarat ini telah
terpenuhi, niscaya bermanfaat dengan
izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Fatwa Syaikh Abdullah al-Jibrin yang
beliau tanda tangani.
Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3,
Darul Haq Cetakan IV
www.konsultasisyariah.com
mujadied.wordprees.com