Senin, 10 Maret 2014

Kenapa Dinamakan Laut Merah

LAUT merah merupakan nama sebuah teluk yang berada di Jazirah Arab tepatnya yang memisahkan benua Asia dengan benua Afrika. Jalur ke arah selatan dari laut ini melewati Babul Mandib dan Teluk Aden sedangkan di utara terdapat semenanjung Sinai dan Terusan Suez. Laut Merah memiliki lebar 300 km dan panjang 1.900 km yang mempunyai titik terdalam 2.500 m.
Laut yang muncul karena perpisahan Jazirah Arab dan Benua Afrika yang dimulai sekitar 30 juta tahun yang lalu ini menjadi habitat bagi berbagai makhluk dan koral. Laut ini memiliki suhu permukaan yang konstan atau sekitar 21 – 25oC dengan jarak penglihatan 200 m. Di laut ini juga sering sekali terjadi angin kencang dan arus lokal yang membingungkan.
Lalu, mengapa laut ini memiliki nama Laut Merah?
Seorang ahli fisika dari Universitas Cambridge yang bernama Collin Humphreys yang juga seorang penulis The Miracle of Exodus mencoba memecahkan pertanyaan tersebut. Dia meakukan penjelajahan ke pusat Teluk Aqabah dan faktanya laut tersebut justru tidak berwarna merah melainkan berwarna biru sama seperti laut yang lainnya.
Dalam proses penelitian tersebut, dia menemukan sekumpulan alang-alang yang tumbuh subur berkat keberadaan air tawar disekitar tempat tersebut. Alang-alang dalam bahasa Inggris disebut dengan reed, tapi masyarakat setempat mengucapkannya red (merah). Karena keberadaan alang-alang tersebut di laut, maka dinamakanlah red sea (Laut Merah), padahal seharusnya the reed seas (Lautan Alang-alang).
Dalam pendapat lain, laut itu disebut dengan Laut Merah dikarenakan terkadang dipenuhi oleh bunga ganggang syanobacteria yang disebut trichodesmium erythaerum. Nah, setelah tanaman ini mati biasanya air laut berubah menjadi cokelat kemerahan. Tapi, dikarenakan warna tersebut tidak betul-betul melekat dengan air di seluruh lautan luas, maka tingkat kemerahannya bervariasi tergantung banyak atau tidaknya ganggang tersebut.
Selain itu, laut ini terkenal ke seluruh penjuru dunia terutama umat islam dikarenakan kisah Nabi Musa yang membelah Laut menjadi dua dan ditengahnya terdapat sebuah jalan untuk menyebrang saat kaumnya dikejar-kejar oleh balatentara Fir’aun. Tapi setelah kaum Nabi Musa sampai, laut tersebut kembali seperti semula sehingga kawanan balatentara Fir’aun tenggelam di sana. Wallaahu a’lam(Islampos)