Kamis, 26 Februari 2015

Mengagumi di Saung Angklung Ujo

Intisari-- Sebagai salah satu objek wisata di Kota Kembang, Saung Angklung Udjo (SAU) sudah banyak dikenal masyarakat. Pemerintah kota Bandung bahkan sudah menetapkannya sejak tahun 1971. Bahkan, popularitasnya kini sudah mencapai mancanegara. Sepanjang waktu, bila berkunjung ke tempat ini, selalu ditemui rombongan turis asing. Apa sebenarnya yang membuatnya istimewa?
Angklung merupakan alat musik tradisional Indonesia dari tanah Sunda. Dibuat dari bambu dan dimainkan dengan mengguncangkannya. Bunyi musik berasal dari bambu-bambu yang beradu, menyusun nada-nada dalam laras salendro dan pelog.
Saung Angklung Udjo sendiri didirikan pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena (5 Maret 1929-3 Mei 2001) dan istrinya Uum Sumiati. Tujuannya untuk melestarikan seni dan kebudayaan tradisional Sunda. Sejak belia, Udjo memang akrab dengan angklung. Selain itu, ia juga mempelajari pencak silat, gamelan dan lagu-lagu daerah dalam bentuk kawih dan tembang. Bakat serta kemampuannya ini semakin berkembang ketika Udjo terjun sebagai guru kesenian di Bandung.
Agar kemampuannya semakin terasah, ia belajar langsung pada ahlinya. Dari Mang Koko ia belajar teknik permainan kecapi dan lagu-lagu daerah; ilmu soal gamelan ia timba dari Raden Machjar Angga Koesoemadinata; sedangkan angklung do-re-mi (diatonis) didapatkan dari Daeng Soetigna (pencipta angklung bernada diatonis).
Berbekal segudang pengetahuannya itu lah Udjo kemudian mengolah paket pertunjukkan untuk pariwisata dengan sajuan utama tetap angklung di sanggarnya. Kehadiran sanggar ini merupakan suatu sarana bagi Udjo untuk mencurahkan jiwa kependidikan yang dimilikinya melalui angklung. Sanggar ini juga menjadi sarana penyaluran jiwa kewirausahaan Udjo karena di bisa menjual pertunjukkan maupun alat musik bambu. Sepeninggal Udjo, SAU diteruskan oleh putra-putrinya hingga kini.
Lokasi SAU berada di kawasan Bandung Timur. Memasuki SAU kita akan disambut lingkungan bersuasana bambu. Selepas halaman parkir yang luas kerindangan pepohonan bambu dan bale-bale peristirahatan yang juga terbuat dari bambu menyapa pengunjung.
Objek wisata budaya ini memiliki sejumlah program menarik yang diselenggarakan secara rutin. Pertunjukkan seni angklung, tari-tarian etnik, atau pencak silat yang dimainkan oleh anak-anak. Pertunjukkan ini diselenggarakan tiap hari pada pukul 15.30-17.30.
Pertunjukkan angklung mengambil porsi terbesar di SAU. Diawali angklung mini pentatonis oleh bocah-bocah yang memainkan lagu seperti “Melati Kenanga” dan Burung Kakatua”. Kemudian disusul orkestra angklung diatonis yang dikembangkan Daeng Soetigna sejak 1983. Babak ini memainkan beberapa lagu daerah macam “Bungong Jeumpa” dan “Yamko Rambe Yamko”.
Sementara keterikatan dengan pengunjung melalui babak Bermain Angklung Bersama. Tiap pengunjung dibagikan angklung, dibimbing cara memegang dan memainkkannya. Awalnya dengan “The Song of Do Re Mie” dari film The Sound of Music hingga mahir mengikuti kode aba-aba. Barulah sang pemandu memberi tahu dulu lagu apa yang dimainkan.
Bila datang lebih dini, pukul 09.00-15.00, kita bisa menyaksikan pembuatan angklung yang terletak di sisi panggung pertunjukkan. Bahan angklung berupa bambu wulung yang didatangkan dari dataran tinggi berkapur di Jampang, Sukabumi. Bambu hitam ini ditebang pada musim kemarau di usia 4-6 tahun. Di sini selain menikmati lingkungan saung diteduhi rumpun bambu, kita pun dapat menikmati makan siang khas Sunda.
Info:
Saung Angklung Udjo
Jalan Padasuka No. 118, Bandung 40192
Telp. (022) 7271714, Faks. 7201587.